Inna fii khalqi al-samaawaati wa al-ardhi wa ikhtilaafi al-layli wa al-nahaari la aayaatin li uli-l albaab.... "Sesungguhnya di dalam Penciptaan Langit dan Bumi, dan Pertukaran malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal..."
Tuhan, dalam penciptaan alam semesta ini, dan siang serta malam, berpikir juga tentang masalah orang-orang yang berakal, atau paling tidak, menyiapkan sebuah tempat di sisinya yang akan diisi oleh orang-orang yang berakal. Beberapa kali Tuhan menyebutkan tentang keutamaan berpikir, selain tentunya keutamaan berbakti dan mengabdi kepada-Nya. ...Afalaa Tatadzakkaruun? ...Afalaa Ta`qiluun? dan lain sebagainya. Bahkan, orang yang beriman lagi memiliki ilmu akan ditinggikan derajatnya beberapa derajat di atas orang yang beriman saja. Orang yang mengetahui pun tidak sama dengan orang yang tidak tahu. Hal yastawii alladziina ya`lamuuna wa alladzina Laa Ya`lamuuna?
Banyak tanda-tanda ulul-albab.... Tetapi, yang bisa kita lakukan hanya beberapa saja. Yadzkuruuna Allaha Qiyaaman wa Qu`uudan wa `alaa Junuubihim. Itu yang bisa kita lakukan setiap hari, tanpa melakukan apa yang disebutkan setelahnya, "wa yatafakkaruuna fii khalqi al-samaawaati wa al-ardhi." Kenapa bisa begitu ya??? Apa ada yang salah dengan kita? Apakah mungkin kita sudah dibenci oleh Tuhan seperti dalam firman-Nya "...Kabura Maqtan `inda Allahi an Taquuluu Maa Laa Taf`aluun..."?
Jika dilihat dari ayat di atas, derajat orang yang berdizikir pada saat duduk dan berdiri (berarti sedang beribadah) masih lebih rendah dibandingkan orang yang beribadah dan juga memikirkan keadaan langit dan bumi. Kenapa ia diciptakan? Apakah ada batasannya? dan lain-lain.... Well, memang, di sisi Tuhan, orang yang bertaqwa lebih tinggi derajatnya dibanding orang yang kurang bertaqwa. Tapi, taqwa dan ta`qiil akan lebih disukai oleh Tuhan ketimbang hanya taqwa saja.....
Mau berkomentar?
Willy Saefurrahman
Thursday, April 24, 2008
Menyingkap Tabir Ulul Albaab...
Ilmu = Cahaya... Ilmu = Makanan?
Imam Syafi`i pernah suatu ketika bertanya kepada gurunya, kenapa ia susah untuk menghapal sesuatu. Gurunya menjawab "tinggalkanlah maksiat, karena ilmu adalah cahaya, dan cahaya Tuhan tidak akan diberikan kepada para pembuat maksiat".
Itu jaman dahulu kala... Kini, yang jadi pertanyaan saya, kenapa Imam Syafi`i sulit dalam menghapal? Apakah ia sering melakukan maksiat? Lalu, kenapa gurunya menyuruh beliau untuk meninggalkan kemaksiatan? Lalu, kalau kita lihat sekarang, kenapa sih umat non muslim sekarang maju padahal setiap hari mereka mereka berbuat maksiat? Kenapa sih umat islam yang masih mendalami al-Quran dan al-Sunnah mundur dari sisi ilmu pengetahuan, padahal mereka jauh dari kemaksiatan? Kenapa umat islam banyak tertinggal? Paling banyak yang buta huruf, gagap teknologi, atau bahkan berada di bawah garis kemiskinan? Padahal Ilmu itu kan cahaya Tuhan, menurut guru Imam Syafi`i, dan Cahaya Tuhan tidak akan pernah diberikan kepada orang-orang yang berbuat maksiat?
Memang, dalam matannya, guru Imam Syafi`i mengatakan bahwa "Nuur Allah Laa Yuhdaa Li-l `aashii," Ilmu pengetahuan orang-orang yang sering berbuat maksiat memang kurang "bermakna," dan cenderung menjadi pseudo-science, ilmu semu. Tapi, apapun itu, premis bahwa "Umat islam tertinggal" memang sebuah fakta yang sangat benar adanya! Dunia islam sekarang hanya bersifat reaktif saja, tidak aktif. Reaktif di sini berarti aktif hanya jika ada yang aktif terlebih dahulu. Kita berkoar hanya karena Wilders mengeluarkan film Fitna, dan lain-lain...
Oke, saya memang orang bodoh dan tolol. Tapi, beberapa orang non muslim yang pernah saya tanya mengenai cara mereka belajar adalah "Menganggap ilmu bukan cahaya tapi makanan." Cahaya memang gratis dan kita tidak perlu membayar untuk mendapatkannya, tapi kita harus mencarinya. Untuk mencari cahaya, sangatlah susah, apalagi jika cahaya tersebut berasal dari sesuatu yang hangat atau bahkan sesuatu yang panas. Kita tidak akan pernah bisa mendapatkan cahaya tersebut. Berbeda dengan makanan. Makanan bisa dinikmati, baik itu makanan yang panas, ataupun makanann yang dingin. Makanan bisa diperoleh dengan gratis, ataupun berbayar. Bahkan, dari tempat sampah juga bisa dapatkan makanan, asalkan makanan tersebut masih baik adanya.
Well, pola pikir memang beda, karena setiap kepala memang memiliki perbedaan cara berpandang. Komentar Anda?
Willy Saefurrahman
Keaslian al-Quran
Posting ini hanyalah pemikiran saja, bukan mencari-cari masalah dengan mempermasalahkan keaslian al-Quran.
Kita tahu, bahwa teks al-Quran dibacakan oleh Nabi Muhammad dan diingat-ingat oleh para sahabatnya yang berada di sekelilingnya pada saat pewahyuan dilakukan oleh Jibril kepada Rasul tersebut. Selanjutnya, para sahabat tersebut menuliskannya ke dalam beberapa media penulisan saat itu, seperti pelepah kurma, di atas batu dan lain sebagainya, karena memang saat itu kertas atau papyrus masih susah untuk diperoleh--Mesir memang gudangnya papyrus tapi kala itu Mesir sedang dikuasai oleh negara "super-power," Romawi. Proses penulisan ini berlangsung kira-kira selama 23 tahun kerasulan Nabi, hingga wafatnya beliau. Pada saat itu , pasti banyak sekali salinan yang tidak resmi yang dibuat oleh para sahabatnya tersebut. Setelah Abu Bakar al-Shiddiq naik tahkta menjadi Khulafaa al-Rasyiduun pertama ditunjuk secara aklamasi oleh para sahabat dan ummat waktu itu, ia pun menyuruh kepada beberapa orang untuk sebuah salinan yang resmi dan dapat digunakan. Ini terjadi pada satu tahun setelah nabi wafat.
Di sini, kita harus bisa mengambil beberapa poin penting. Teks al-Quran saat ini diambil dari penulisan-penulisan "tidak resmi" yang dilakukan oleh para sahabat tersebut, lalu dicek ulang oleh para huffazh al-Quran, yang kala itu sangat banyak sekali jumlahnya--terutama orang-orang yang selalu berada di sisi Rasul. Teks yang dihafal tersebut merupakan satu-satunya yang dianggap "autentik" pada saat itu, di saat tidak semua orang bisa menulis dan membaca. Hafalan memang mudah dan murah jadinya, dan digunakan sebagai sarana transfer al-Quran. Lebih lanjut lagi, al-Quran, dalam wahyu yang pertama kali diturunkan kepada Nabi, yakni surah al-`Alaq (Q.S. 96) ayat 1-5 menyatakan keharusan untuk menuliskan sesuatu, karena memang Tuhan mengajarkan manusia dengan qalam. Kata "Qalam" di sini merujuk kepada alat untuk menulis, sehingga memang kita wajib bisa membaca dan menulis--tidak cuma menghafal saja.
Lalu, Abu Bakar pun wafat, dan digantikan oleh Umar ibn Khaththab. Pada sat itu memang masih banyak huffazh al-Quran yang masih hidup. Akan tetapi, banyaknya peperangan dan juga umur yang semakin tua membuat hafalan-hafalan tersebut semakin meredup. Umar pun digantikan oleh Utsman ibn `Affan, karena Umar terbunuh. Pada dua tahun pertama pemerintahan Khalifah Utsman, dibuatlah tujuh salinan dari teks-teks yang resmi yang dibuat pada beberapa zaman sebelumnya, untuk kemudian didistribusikan ke seluruh dunia yang telah ditaklukkan oleh islam. Pada saat itu, semua salinan yang tidak resmi dihancurkan dan salinan-salinan yang dibuat masa yang akan datang dibuat berdasarkan tujuh salinan yang dibuat pada zaman kekhalifahan Utsman. Karenanya, disebut sebagai mushaf utsmaniy.
Jadi, al-Quran yang kita pegang sekarang adalah al-Quran yang dibuat pada zaman khalifah utsmani. Apakah yang dilakukan oleh Khalifah Utsman ini adalah jalan yang sama yang dilakukan oleh Konsili Nicea pada beberapa abad sebelumnya dalam menghancurkan semua salinan bibel selain dari empat apostle, untuk membuat perjanjian baru? Well, saya tidak tahu. Yang pasti, saya tetap percaya dengan al-Quran sebagai sumber ilmu.
Tentang saya
- Willy Saefurrahman
- Tangerang, Banten, Indonesia
- Willy Saefurrahman 23 tahun Jomblo